ï»żAl Futuhat) Hidup adalah ibadah Dalam ayat-Nya Allah berfirman, Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya'bududun Lama aku tid
PERCIKID- Wala tansa nasibaka minad dunya.Sepotong firman Alloh yang direkam dalam Surat al-Qoshosh ayat 77 itu kita dapati diterjemahkan dengan, â dan janganlah kamu melupakan bagian [kenikmatan] dunia.â Apa keterkaitan antara
Suatuhari aku bertanya kepada gurukuGuruku mengatakan, "Tidak salah pendapatmu, tapi kurang".Ketahuilah..Dalam ayat lain Allah juga berfirmanWala tansa nasibaka minaddunyaDan La yukallifullahu nafsan illa wus'ahaJelas Allah tidak hanya menyuruh kitauntuksholat dan puasaAllah juga menyuruh kita untukmencari duniaBahkan Allah melarang
Wabtaghifima atakallah Dar al Akhirah, wala tansa nasibaka minaddunya. Ketahuilah, ayat ini memberikan pengertian bahwa Allah memerintahkan menuju akhirat dengan mengambil sedikit bagian dari dunia. kalo kita mengenal gramatika arab kata min dari ayat tersebut menunjukkan arti sebagian. karena itu tertipulah orang yang mengedepankan dunia
Mangpirangpirang papagon agama geus nerangkeun masalah dunya. Ditétélakeun dina surat AlQashash ayat 77. Dunya téh saukur keur bekel, lain keur sagalana. Wabtagi fiima atakallohu darrol akhiroh. Wala tansa nasibaka minaddunya, wahsin kama ahsana ilaika. Nu diterangkeun téh, mung ulah poho kana dunya. Lantaran hirup di dunya téh perelu bekel.
mQFn. Wala tansa nasibaka minad dunya Dan jangan sampai engkau melupakan nasibmu di dunia Ini ayat yang menunjukkan letak peradaban manusia dalam rangka pemenuhan nasibnya di dunia. Ini adalah ayat rambu rambu dan menjadi tolak ukur bagaimana manusia akan bersikap. Kalau manusia mengartikannya bahwa ini adalah ayat penegasan dan sebagai legitimasi untuk sebanyak banyaknya mencari dunia dalam rangka mengisi kehidupannya, ini mjdi ayat yg bisa d jadikan landasan untuk sebanyak banyaknya mengeruk dunia. Menghabiskan waktu dan ruang untuk mengisi kebutuhan akan dunia. Tapi kalo manusia mentadabburinya sbgai ayat peringatan bahwa sudahlah hidup di dunia ini sementara saja. Penuhi hari hari manusia dengan visi misi kehidupan akhirat. Dan dalam perjalanan pemenuhan visi misi itu, yah sekedar jngan lupa saja untuk mengisinya untuk keperluan dunia. Prosentase terbesarnya adalah kehidupan yang akan berlangsung selamanya setelah manusia meninggalkan dunia This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tukang service sehabis sholat dikeroyok dan dibakar hidup-hidup. Al-Quds dibantai teroris-teroris yang katanya Zionis. Pemerintah mengadakan dzikir kebangsaan. HT mendukung Pemerintah Pak Dhe Joko. Mbah Nun diadu domba dengan NU. Sesama ormas saling dibenturkan. Kecelakaan beruntun di Jln. Kudus-Pati. Meriahnya HUT RI ke-72 di Desa Jetak Wedung Demak. Sampai Neymar pindah ke di atas adalah judul berita yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan masyarakat online pun offline. Semua manusiaâtidak semua itu semua, semua juga bisa memiliki makna sebagianâ seragam memperbincangkan judul-judul tersebut. Baik skala nasional, lokal, kecamatan, desa, internasional, jin, setan, dhemit, sampai para malaikat pun ikut dibingungkan oleh manusia. Semua manusia serempak memikirkan hajat-hajat yang tentu bukan hajat mereka, sehingga mereka lupa hajatnya berkumpul, mempergunjingkan, ngalor-ngidul tanpa solusi, mereka pulang dengan kehampaan dirinya. Mereka lupa, mereka belum kaya, juga belum ijin Tuhan, belum selesai urusannya, mereka sedih sendiri. Mereka ketakutan hidup di dunia. Mereka menangis dengan nasibnya di dunia. Meminjam salah satu petuah Mbah Tedjo, "Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab suci. Khawatir besok tidak bisa makan saja, itu sudah menghina Tuhan." Maka tak perlu lah kita menangisi apapun yang terjadi di dunia. Tak perlu mencitrakan diri sebagai yang paling solidaritas, paling toleran, dan yang paling paling lainnya, meski itu baik. Cukuplah tak perlu takut besok-tidak-bisa-makan dengan cara bekerja, meng'kaya'kan diri, keluarga, serta lingkungan sosialmu. Biarlah Mendikbodo ribut dengan FDSnya, biarlah rektor Unn*s ribut dengan presiden BEM kampusnya. Selesaikan dulu nasibmu, sehingga tak ada lagi kekhawatiran dan ketakutan di dunia. Selesaikan Agustus 2017-Nb Judul ini merupakan tema majlis maiyah Mocopat Syafaat, Juli Arafat, yang terus berjuang menjadi Muslim. Lihat Sosbud Selengkapnya
wala tansa nasibaka minaddunya